Sai adalah ibadah yang sarat makna dalam perjalanan haji dan umroh. Amalan ini mengingatkan umat Islam pada keteguhan Siti Hajar saat mencari air bagi putranya, Ismail. Gerakan antara bukit Shafa dan Marwah bukan sekadar ritual, tetapi simbol perjuangan, tawakal, dan kasih seorang ibu. Karena itu, memahami pengertian, tata cara, serta nilai spiritualnya akan membuat ibadah lebih bermakna dan diterima Allah SWT.
Pengertian dan Keutamaan Sai
Sai adalah bagian dari rangkaian ibadah haji dan umroh. Sai dari bahasa Arab sa‘a yang berarti “berusaha dengan sungguh-sungguh”. Ibadah ini melambangkan perjuangan manusia yang selalu berikhtiar sambil berserah diri kepada Allah. Melalui sai, jamaah diajak meneladani keteguhan hati dan ketulusan Siti Hajar. Dalam penjelasan di Mabruk, sai disebut sebagai rukun penting yang sarat makna spiritual dan sejarah.
Meneladani Keteguhan Siti Hajar
Sai adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail. Ia berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah dalam keadaan haus dan lemah, namun tetap yakin akan pertolongan Allah. Kisah ini mengajarkan umat Islam untuk tidak menyerah dalam setiap ujian hidup. Ketika usaha disertai doa, Allah akan memberi jalan keluar yang terbaik.
Bagian dari Rukun Umroh dan Haji
Sai adalah rukun utama yang wajib dilakukan dalam haji dan umroh. Tanpa pelaksanaan sai, ibadah tidak sah, kecuali pada haji ifrad yang sainya dilakukan setelah thawaf ifadhah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Lakukanlah sai, karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.” (HR Ahmad). Maka, siapa pun yang mengabaikannya akan kehilangan kesempurnaan ibadah.
Menghidupkan Sunnah Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ melaksanakan sai setiap kali berhaji atau berumroh. Mengikutinya berarti meneladani sunnah beliau dalam menjalankan perintah Allah. Hadis riwayat Muslim menjelaskan bahwa Nabi menunaikan sai dengan penuh khusyuk dan doa. Setiap langkah jamaah menjadi bukti kecintaan dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ.
Menghapus Dosa dan Meningkatkan Derajat
Sai dilakukan dengan doa dan dzikir agar hati selalu mengingat kebesaran Allah. Dalam prosesnya, dosa-dosa kecil dihapus dan derajat keimanan meningkat. Imam Nawawi menjelaskan bahwa sai termasuk amal yang memiliki pahala besar karena dilaksanakan dengan ikhlas dan sabar. Maka, setiap lintasan menjadi jalan menuju ampunan Allah.
Simbol Perjuangan dan Harapan
Sai menggambarkan usaha maksimal yang diiringi doa dan tawakal. Ketika Siti Hajar terus berlari tanpa menyerah, Allah memunculkan air zamzam sebagai jawaban atas ketekunannya. Inilah pelajaran penting bagi setiap jamaah untuk selalu berharap pada rahmat Allah. Usaha dan doa yang tulus pasti membuahkan hasil terbaik.

Tata Cara Sai Haji dan Umroh Lengkap
Sai adalah salah satu ibadah dalam rangkaian ibadah haji dan umroh. Pelaksanaan sai memiliki urutan dan adab tertentu agar ibadah sah serta bernilai pahala sempurna. Setiap langkah dalam sai hendaknya dilakukan dengan niat dan ketenangan hati. Menurut artikel di Al-Feqh, sai disebut sebagai rukun haji dan umroh yang wajib dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Persiapan Sebelum Sai
Sai dilakukan setelah thawaf sah, baik thawaf umroh maupun thawaf ifadhah. Disunnahkan berwudhu, shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, lalu minum air zamzam. Setelah itu, jamaah menuju Bukit Shafa untuk memulai sai. Dalilnya terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 125 yang memerintahkan shalat di Maqam Ibrahim.
Niat Sai
Niat dilakukan dalam hati, cukup dengan kesadaran melaksanakan sai antara Shafa dan Marwah tujuh kali karena Allah Ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Doa niat sai:
اللَّهُمَّ إِنِّي أُرِيدُ السَّعْيَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَيَسِّرْهُ لِي وَتَقَبَّلْهُ مِنِّي
Allāhumma innī urīdu as-sa‘ya bayna aṣ-Ṣafā wal-Marwah fa-yassirhu lī wa taqabbalhu minnī
(Ya Allah, aku berniat melaksanakan sai antara Shafa dan Marwah, maka mudahkanlah dan terimalah dariku).
Doa di Bukit Shafa
Sai adalah ibadah yang penuh kisah dan doa. Adapun doa sai, Anda bisa membaca ayat berikut saat berada di Shafa:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ (QS Al-Baqarah: 158)
Innaṣ-Ṣafā wal-Marwata min sha‘airillāh
(Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah).
Kemudian menghadap Ka’bah, mengangkat tangan, membaca takbir dan tahmid:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, wa lillāhil-ḥamd
Dilanjutkan doa:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā sharīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr
Berjalan antara Shafa dan Marwah
Sai adalah ibadah yang dilakukan antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Lintasan sai dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. Laki-laki disunnahkan berlari kecil (harwala) antara dua tanda hijau, sedangkan wanita berjalan biasa. Sepanjang perjalanan, jamaah dianjurkan membaca doa:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
Rabbi ighfir warḥam, innaka anta al-a‘azzu al-akram
(Wahai Tuhanku, ampunilah dan rahmatilah, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia).
Doa di Bukit Marwah
Setelah sampai di Marwah, jamaah berdiri menghadap Ka’bah sambil berdoa dan berdzikir. Rasulullah ﷺ bersabda: “Mulailah dari Shafa dan akhiri di Marwah.” (HR Muslim). Doa yang dibaca sama seperti di Shafa:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Penutup Sai
Sai adalah ibadah yang juga penuh rasa syukur. Maka, setelah selesai, ucapkan doa syukur berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى تَمَامِ الْعِبَادَةِ
Al-ḥamdu lillāhi ‘alā tamāmil-‘ibādah
(Segala puji bagi Allah atas sempurnanya ibadah).
Sai adalah ibadah yang tidak diikuti ritual tambahan kecuali tahallul (memotong rambut) bagi jamaah umroh, termasuk yang umroh mandiri. Dalilnya terdapat dalam QS. Al-Hajj: 29 yang memerintahkan tahallul setelah ibadah haji dan umroh.

5 Nilai Spiritual Sai
Sai adalah perjuangan dari Siti Hajar dan Ismail. Sehingga, sai tidak hanya bernilai ibadah fisik, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual yang mendalam. Setiap langkah mencerminkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Sai disebut sebagai simbol perjuangan, doa, dan tawakal yang mengajarkan umat Islam untuk selalu berharap pada pertolongan Allah.
1. Tawakal dan Ikhtiar
Sai mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Manusia wajib berikhtiar sekuat tenaga, namun hasil akhirnya tetap bergantung pada kehendak Allah. Kisah Siti Hajar yang berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah menunjukkan bahwa usaha harus disertai doa. Nilai ini menegaskan bahwa ikhtiar tanpa tawakal tidak sempurna, dan tawakal tanpa usaha tidak bermakna.
2. Kesabaran dalam Ujian
Sai adalah ibadah yang penuh kesabaran. Ini seperti Siti Hajar yang bersabar menghadapi kesendirian di padang tandus, jamaah belajar menerima ujian dengan tenang. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar) – QS Al-Baqarah: 153. Sai menjadi pengingat bahwa kesabaran adalah kunci dalam menghadapi kesulitan hidup. Dengan sabar, seseorang akan memperoleh pertolongan dan pahala besar dari Allah.
3. Ketaatan Tanpa Ragu
Siti Hajar tidak membantah perintah Allah dan Nabi Ibrahim. Ia menjalankan perintah dengan penuh keyakinan meski dalam kondisi sulit. Sai mengajarkan umat untuk patuh tanpa ragu pada syariat Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 158 yang menegaskan Shafa dan Marwah sebagai bagian dari syiar Allah. Ketaatan ini menjadi bukti iman yang kokoh.
4. Harapan dalam Keputusasaan
Dari perjalanan Siti Hajar, jamaah belajar bahwa pertolongan Allah datang setelah usaha maksimal. Kisah munculnya air zamzam menjadi bukti nyata bahwa harapan selalu hidup dalam doa. Sai mengajarkan bahwa meski manusia berada dalam keputusasaan, rahmat Allah selalu dekat. Nilai ini menumbuhkan optimisme dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
5. Kesetaraan dalam Ibadah
Sai adalah ibadah yang menegaskan bahwa semua jamaah memiliki derajat yang sama di hadapan Allah. Kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, semuanya berjalan sejajar sebagai hamba yang tunduk kepada Sang Pencipta. Nilai kesetaraan ini menghapus sekat sosial dan menegaskan bahwa ibadah adalah ruang persaudaraan. Sai menjadi simbol bahwa kemuliaan hanya ditentukan oleh takwa, bukan status duniawi.
Sai adalah rukun agung yang mengajarkan keteguhan, tawakal, dan kesabaran. Melaksanakan sai dengan benar akan menyempurnakan haji dan umroh Anda. Maka, sebaiknya, Anda mengikuti arahan dari pembimbing haji dan umroh profesional dari Lima Pilar. Lima Pilar menyediakan layanan haji dan umroh dengan pendampingan profesional dan fasilitas lengkap agar ibadah lebih khusyuk dan tenang.

