3 Niat Tawaf Wada dan Cara Sah Melakukannya

Niat tawaf wada menjadi bagian penting dalam penutup rangkaian ibadah haji. Melalui niat yang benar, tawaf wada menjadi ibadah yang sah dan penuh keberkahan sebelum kembali ke tanah air. Ibadah ini, tawaf wada, menegaskan bahwa jamaah benar-benar akan meninggalkan Makkah setelah menyempurnakan seluruh amalan wajib. 

Pengertian dan Hukum Niat Tawaf Wada

Berdasarkan penjelasan di Rumaysho, tawaf wada adalah tawaf perpisahan yang dilakukan jamaah haji sebagai pamitan kepada Ka’bah sebelum meninggalkan Makkah. Adapun niat tawaf wada pada dasarnya adalah niat melakukan tawaf sebagai penutup ibadah haji sebelum keluar dari Makkah. Niat itu dianjurkan disusun dengan jelas dalam hati saat memulai putaran pertama.

Secara praktik, tawaf wada dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah tujuh kali seperti tawaf lainnya. Jamaah memulai dari Hajar Aswad, berjalan berlawanan arah jarum jam, serta memperbanyak doa dan dzikir selama putaran. Inilah amalan penutup sebelum keberangkatan jamaah dari Makkah. Dengan pelaksanaan yang tertib, tawaf wada menjadi ibadah penutup yang melengkapi perjalanan haji.

Mengenai hukumnya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Beberapa madzhab menyatakan tawaf wada hukumnya wajib bagi setiap jamaah yang akan meninggalkan Makkah. Jika ditinggalkan tanpa uzur, sebagian ulama mewajibkan dam sebagai kompensasi. 

Sementara itu, otoritas haji modern dan panduan resmi di beberapa negara menjelaskan bahwa tawaf wada tetap merupakan amalan penting yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Karena terdapat perbedaan pandangan, jamaah dianjurkan mengikuti pedoman manasik resmi pemerintah negaranya.

Selain itu, bimbingan pembimbing haji juga menjadi rujukan agar pelaksanaannya benar dan sesuai syariat. Yang terpenting, jamaah tetap berusaha melakukan tawaf wada bila memungkinkan untuk menyempurnakan ibadah.

Akhirnya, tawaf wada menjadi amalan yang menyempurnakan pengalaman spiritual jamaah umroh selama di Tanah Suci. Dengan melaksanakannya, jamaah menutup perjalanan hajinya dengan tertib, penuh hormat, dan keikhlasan. Tawaf ini juga memberikan ruang bagi jamaah untuk bermunajat terakhir di dekat Ka’bah.

Jamaah haji dan umroh yang melaksanaka ibadah dan telah membaca niat tawaf wada

Keutamaan Niat Tawaf Wada

Menurut Almanhaj, niat tawaf wada membawa banyak keutamaan bagi jamaah yang melaksanakannya dengan hati tulus. Niat bukan sekadar formalitas; ia menegaskan kesempurnaan haji dan memengaruhi kualitas ibadah. Berikut lima keutamaannya.

Menegaskan Keikhlasan Ibadah

Niat yang benar mengubah tawaf wada menjadi penutup ibadah yang sahih dan bermakna. Ketika niat ditujukan hanya kepada Allah, ibadah menjadi murni. Keikhlasan itu juga mengarahkan setiap doa dan dzikir menjadi lebih fokus dan bermakna bagi pelaku. Dengan keikhlasan, jamaah lebih mudah menjaga niat dan amal setelah kembali ke tanah air.

Mengikat Ritual Penutup Haji

Niat menandai bahwa rangkaian haji telah diselesaikan secara tertib. Tanpa niat khusus, tawaf tidak selalu dianggap penutup resmi. Dengan niat, jamaah lebih mudah merasakan kepuasan batin karena mengetahui manasik telah dituntaskan sesuai tata urutannya. Niat yang jelas membantu pembimbing menegaskan status manasik bagi seluruh rombongan.

Menghindarkan Kewajiban Dam Menurut Sebagian Ulama

Bagi sebagian ulama, meninggalkan tawaf wada tanpa uzur mewajibkan dam. Dengan berniat dan melaksanakannya, jamaah terlepas dari kewajiban kompensasi itu. Hal ini sekaligus meringankan beban spiritual dan finansial yang mungkin timbul akibat kelalaian. Niat yang diniatkan sebelum tawaf memperkecil risiko kesalahpahaman soal status hukum ibadah.

Memperbanyak Kesempatan Doa di Tempat Mulia

Niat tawaf membuat jamaah menyadari nilai momen terakhir dekat Ka’bah sebelum pulang. Akibatnya, doa dan dzikir menjadi lebih khusyuk dan fokus. Kesadaran ini mendorong jamaah memaksimalkan munajat untuk memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi keluarga di kampung halaman. Dengan intensitas doa yang meningkat, pengalaman spiritual jamaah sering terasa lebih mendalam dan menenangkan.

Menutup Perjalanan dengan Penghormatan kepada Ka’bah

Niat tawaf wada adalah bentuk pamitan penuh hormat kepada rumah Allah. Ibadah ini menegaskan kecintaan dan adab jamaah terhadap Ka’bah. Sebagai penutup, niat yang tulus membantu jamaah meninggalkan Tanah Suci dengan rasa syukur dan komitmen untuk mempertahankan amalan baik setelah kembali. Niat yang dipelihara menjadi pengingat sepanjang hidup agar perilaku dan ibadah tetap konsisten.

Bacaan Niat Tawaf Wada

Setiap ibadah akan lebih sempurna bila diawali dengan niat yang benar. Karena itu, jamaah dianjurkan membaca niat tawaf wada sebelum memulai putaran tawaf. Berikut bacaan niatnya dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya yang juga dibahas di Detik.

  1. Bacaan niat Arab:  نَوَيْتُ طَوَافَ الْوِدَاعِ لِلَّهِ تَعَالَى
  2. Bacaan niat latin: Nawaitu thawāfal widā‘ lillāhi ta‘ālā.
  3. Bacaan niat terjemah atau bahasa Indonesia: “Aku berniat melakukan tawaf wada karena Allah Ta’ala.”

Jamaah yang sedang menjalankan tawaf wada. Niat tawaf wada sangat dianjurkan walau hanya dalam hati.

Tata Cara Membaca Niat Tawaf Wada

Agar niat tawaf wada menjadi sah dan sesuai tuntunan, jamaah haji atau umroh perlu memahami tata cara membaca niat dan pelaksanaan tawafnya. Menurut Detik Hikmah tawaf wada harus dilakukan dengan benar. Pengetahuan yang benar membantu jamaah melaksanakan ibadah dengan tenang dan khusyuk. Berikut langkah-langkahnya:

Niat Dalam Hati Terlebih Dahulu

Tetapkan dalam hati bahwa tujuan Anda adalah tawaf wada karena Allah. Niat batin menjadi rukun utama dalam ibadah ini. Meskipun diucapkan, niat hati tetap menjadi asas yang paling penting. Pastikan Anda melakukannya dengan kesadaran penuh. Menetapkan niat dengan sungguh-sungguh membantu menjaga fokus selama menjalankan tawaf. 

Bacaan Niat Arab Latin Dan Terjemah

Ucapkan bacaan niat:
Arab: نَوَيْتُ طَوَافَ الْوِدَاعِ للهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu thawāfal widā‘ lillāhi ta‘ālā
Terjemah: “Aku berniat melakukan tawaf wada karena Allah Ta’ala.”

Membaca niat ini mempertegas tujuan ibadah Anda sebelum memulai tawaf. Mengucapkan lafaz niat dapat menjadi pengingat bagi hati dan lisan bahwa ibadah ini khusus untuk Allah. Jika lupa membaca lafaz, pastikan niat batin tetap ada karena niat batin lebih utama.

Membaca Niat Saat Akan Memulai Putaran Pertama

Setelah menetapkan niat dalam hati dan membaca lafaz niat, jamaah memulai tawaf dari area Hajar Aswad. Lanjutkan dengan tujuh putaran sambil berdzikir dan berdoa. Niat pada awal putaran memastikan bahwa tawaf yang Anda lakukan adalah tawaf wada. Ini menjadi pembeda dari tawaf-tawaf lainnya. Menjaga niat pada awal putaran membantu menghindari kekeliruan niat di tengah ibadah.

Memulai Tawaf

Berdirilah sejajar Hajar Aswad atau posisi yang paling memungkinkan untuk memulai putaran. Kemudian mulailah mengelilingi Ka’bah dengan arah yang benar, yaitu Ka’bah berada di sisi kiri Anda. Perbanyak doa dan dzikir selama berjalan. Jaga ketertiban dan fokus pada ibadah. Perhatikan juga etika dan keselamatan jamaah lain agar ibadah berlangsung tertib.

Melakukan Tujuh Putaran Hingga Selesai

Selesaikan tujuh kali putaran dengan standar rukun tawaf. Bila memungkinkan, sentuh atau kecup Hajar Aswad. Setelah selesai, jamaah tidak lagi melakukan sa’i karena tawaf wada adalah penutup seluruh manasik. Akhiri dengan doa penutup sebelum meninggalkan Masjidil Haram. Pastikan semua rukun dan sunnah yang berkaitan telah dipenuhi untuk kesempurnaan ibadah.

Niat tawaf wada membantu jamaah menyempurnakan ibadah haji dengan cara yang sah dan tertib. Ibadah penutup ini membawa banyak keutamaan dan menjadi momen penting sebelum meninggalkan Makkah. Jika Anda ingin ibadah haji lebih terarah, tenang, dan tertib, gunakan layanan dari Lima Pilar agar setiap amalan—including tawaf wada—berjalan sesuai tuntunan.

DAFTAR ISI